Jingga Cinta Kita
Oleh Effendy Wongso
Hanya dengan satu lirikan mata segalanya dapat berubah.
Erina menyesali pertemuan yang tidak disangka-sangkanya itu. Tiga tahun
dikuburnya kisah sepat itu. Tiga tahun pula digebahnya jauh-jauh kenangan
cinta pertamanya. Namun sekarang dia datang. Mengusik kesendiriannya yang damai.
“Jaelany Akbar Yusuf….”
“Please.
Jangan singgung nama Jay lagi!”
Gadis itu seperti mafhum. Manut mengakuri perintahnya
yang seperti titah. Maklumat itu tentu bukan tanpa alasan. Kalau si Prenjak
itu sedih seolah berkabung begitu, pasti ada bayang gelap di balik kisah masa
lalunya. Dan dia menghormati keputusan yang diambilnya demi mempertahankan persahabatan yang telah dibina sekian
tahun.
Kehadirannya yang tiba-tiba itu seperti meteor. Datang
tanpa surat
undangan. Mengobrak-abrik hatinya yang sudah tertutup rapat-rapat untuk sesuatu
yang bernama cinta. Cowok itu, adalah setitik nila yang melantakkan segalanya!
Lalu gadis itu terkapar ke silam masa lalu. Padang kenangan menghamparkan
trauma, meneteskan titik-titik gulana yang mengucur seperti air sungai dari
sepasang mata bolanya!
“Sori, Jean. Bukan maksudku….”
“Sudahlah, Rin. Aku tidak marah, kok.”
“Tadi aku kasar terhadapmu.”
“Bukan kamu sengaja. It’s okay.”
“Tapi….”
“Tapi apa? Hei, jangan menyesal seperti orang terpidana
mati begitu dong, Rin. Kalau kamu begitu, justru aku yang merasa bersalah
padamu.”
“Jay….”
“Hei, bukankah kamu bilang kepadaku, jangan menyinggung
namanya lagi?!”
“Benar. Tapi….”
“Kamu masih merindukannya?”
Erina melototkan matanya yang merah seusai menguras
semua airmatanya tadi. Kali ini Jeanita tidak dapat mengelak tawa. Gadis itu
masih menyimpan wangi kenangan cinta pertamanya!
“Nah, lho?”
“Jangan meledekku!”
“Siapa juga yang meledek?! Aku cuma merasa lucu!”
“Eh, mukaku berjelaga debu ya, sehingga tampak lucu
seperti topeng monyet?!”
“Tentu saja tidak.”
“So, kenapa kamu tertawa?”
“Aku tertawa karena benar kata pepatah. Cinta pertama
dibawa sampai mati!”
“Eh, ka-kamu…!”
“Sori. Jangan marah. Mimikmu seperti kanibal saja.”
“Benar! Aku bisa jadi kanibal seperti Sumanto, dan
mencabik-cabik tubuhmu kalau kamu ledek aku terus-terusan begitu!”
“Ih, macan kali yee!”
“Habis….”
“Hihihi… aku sampai lupa kalau kamu habis menangis
karena emosi.”
“Makanya….”
“Makanya aku mau ngajak kamu makan di McDi sebagai
penawar rasa bersalah.”
“Aku bukan orang yang gampang makan sogok, Non.”
“Traktir bukan sogokan. Terserah, mau ikut atau tidak.
Pilih, yes or not!”
“Hm, aku pilih yes, deh.”
“Nah, begitu dong!”
***
“Dulu sebelum keluarganya pindah ke Mampang, Jay
tinggal dua rumah dari rumahku….”
“Oh, I see.
Tetanggaku idolaku!”
“Eh, nih anak!”
“Hihihi… sori. Trus?”
“Mulanya dia kuanggap saudara. Waktu kecil kami sering
main bersama. Makanya, aku dan keluarganya sangat dekat. Bokap-nyokapnya
seperti orangtuaku juga.”
“Kok kalian bisa berantakan begitu sih, Rin?”
“Aku juga tidak mengerti. Dia tiba-tiba bisa berubah
drastis begitu….”
“Maksudmu….”
“Kami dua tahun pacaran. Sebetulnya tidak ada yang
aneh dalam hubungan kami itu. Semuanya berjalan wajar. Bahkan persaudaraan
kami lebih kuat dibanding dulu. Tapi semuanya berubah sejak kehadiran Ellen….”
“Ellen?!”
“Dia saudara sepupu Jay. Anak Makassar yang sekolah
di Aussy!”
“Apa hubungannya….”
“Aku tidak tahu, apakah dia merupakan orang ketiga
biang pelantak hubungan kami!”
“Kok?”
“Ellen sebenarnya hanyalah korban dari tradisi primordialisme
yang masih berlaku aklamasi di sebagian kecil kalangan orangtua kolokan masyarakat
Bugis-Makassar.”
“Maksudmu?!”
“Begini. Pernikahan antarsaudara sepupu memang diterapkan
untuk kaum muda di sana
dengan asumsi asal-usulnya yang jelas. Sebenarnya baik. Tapi, kadang-kadang
hal tersebut merusak kebebasan memilih pendamping hidup untuk si Anak, karena
mereka biasanya dijodohkan tanpa melalui proses pengenalan hati alias
berpacaran.”
“Dan itu berlaku untuk Jay dan Ellen maksudmu?!”
“Siapa lagi?!”
“Kasihan!”
“Nah, kamu yang tidak menjadi korban saja bisa terenyuh
begitu, apalagi aku? Huh, sakitnya tidak ketulungan!”
“Kok, masih ada adat istiadat begituan sih, Rin?!”
“Bukan adat istiadat. Tapi lebih merupakan keegoisan
orangtua yang tidak memikirkan kepentingan dan kebahagiaan anak-anak mereka.”
“Lalu, setelah kamu dihempaskan Si Jay itu, apa yang
kamu lakukan?”
“Eh, memangnya aku sampah yang dicampakkan?!”
“Sori. Cuma konotasi.”
“Huh, di situlah bencinya aku terhadap banci itu!”
“Hei, kok kamu bilang dia banci sih, Rin?!”
“Habis pengecut begitu!”
“Maksudmu….”
“Dia tinggal diam seperti patung, manut seperti robot.
Disuruh menikah dengan gadis sepupunya yang tidak dicintainya itu dia oke
juga. Lha, apa itu bukan banci namanya?!”
“Iya, sih. Hei, kalau aku sih pasti melawan kehendak orangtua
kolokan begitu! Dan tetap mempertahankan kesetiaanku pada orang yang aku
cintai.”
“Tapi sayangnya kamu bukan Jay!”
“Hihihi… iya, sih.”
***
“Tadi….”
“Tadi dia datang ke rumah.”
“Ngapain?!”
“Menyampaikan kalau dia ingin kembali kepadaku!”
“Ya, ampun! Jangan mau, Rin. Memangnya kamu sudi
dapat suami yang suka berpoligami?!”
“Eh, dengar dulu, Non! Jangan motong begitu, dong. Siapa
bilang dia sudah menikah?!”
“Ja-jadi….”
“Dia itu belum menikah, Sayang. Katanya, tiga hari menjelang akad nikah, dia
lari ke Kupang. Dia berontak terhadap keinginan orangtua masing-masing
pihak.”
“Wah, berarti dia serius sama kamu dong, Rin!”
“Hah, serius katamu?!”
“Iya, dong. Kalau tidak serius, kenapa juga dia melarikan
diri begitu?”
“Kalau dia serius, sejak mula harusnya berontak. Bukannya
setelah semua surat
undangan nyebar ke seluruh pelosok negeri!”
“Hihihi… iya, sih. But, apakah kamu tidak dapat menerimanya kembali?”
“Cintaku kepadanya mungkin hanya tersisa sebagai kenangan.
Sejak dia tidak berkutik menolak keinginan orangtuanya dan juga orangtua Ellen,
aku jadi tidak bersimpati lagi padanya!”
“Tapi, Jay kan
masih cinta kamu. Masa sih kamu tega….”
“Bukannya aku tidak mau kembali, Jean. Tapi, memang
ada saatnya bilang ‘tidak’ pada hal-hal yang bakal memporak-porandakan
hatimu untuk kedua kalinya!”
“Kamu trauma?”
“Salah satu sebabnya, ya memang itu!”
“Tapi….”
“Sudahlah, Jean. Dunia tidak bakal kiamat kalau aku
tidak bersama Jay, kan?”
“Iya, sih. Tapi….”
“Tapi apa lagi, sih?”
“Tapi sayang dong, Rin. Jay itu cute banget, lho?”
“Mau kiyut atau imut kek, aku tidak mau jatuh dalam
lubang yang sama. Kadung sakit hati, tahu tidak?!”
“So, apa rencanamu selanjutnya menyikapi kengototan
cowok itu ngejar-ngejar kamu lagi?”
“Sekali tolak tetap tolak!”
“Sadis!”
“Biarin! Eh, atau bagaimana kalau kamu saja yang
menyambut cintanya?”
“Memangnya bola apa disambut?”
“Kata kamu barusan dia cute, kan?!”
“Ogah, ah!”
“Hahaha… kok, kamu ogah sih?”
“Hm, ya tidak mau ya tidak mau!”
“Hahaha… takut, ya?” ©
Tidak ada komentar:
Posting Komentar