Senin, 16 Desember 2013

Sayonara, Ruki (2)

SAYONARA, RUKI (2)


                “Kenapa?”
                “Kegagalan itu yang menghancurkan semua se­ma­ng­­at saya,” jawab Sar­wa­na separuh mendesis. Seolah ber­bi­ca­ra pada dirinya sendiri.
                “Gagal?” Ruki mengernyitkan dahinya. Dicondong­kannya kepalanya lebih de­kat, nyaris menyentuh dahi cowok yang tengah menundukkan kepalanya itu. “Gagal apa?”
                Sumimase, Ruki-chan7,” sahutnya lemah, mengalih­kan pertanyaan dari Ruki. “Tidak seharusnya pertemuan dan per­kenalan kita ini diawali dengan ki­sah sedih begini….”
                “Manusia pasti punya masalah. Kamu tidak usah ragu bakal merecoki perkenalan kita dengan tangis. Never mind. Saya rela jadi waskom curhatmu, kok,” kata gadis yang bergaya funky itu. Matanya mendelik lucu.
                “Hei, apa saya kelihatan cengeng begitu….”
                “Habis, muka kamu memelas begitu.” Ruki menci­bir. “Ada apa sih sebe­narnya?”
                Sarwana membisu. Dadanya serasa sesak. Dihela­nya udara dalam-dalam. Dibutuhkannya waktu lima detik un­tuk menimbang-nimbang, sebelum akhirnya menjawabi de­sak­an pertanyaan gadis dari Negeri Sakura itu.
                “Saya gagal mendapat beasiswa ke Jepang dari se­ko­­lah!”
                “Mungkin kamu belum beruntung.”
                “Bukan. Semua karena Ayah saya….”
                “Apa hubungannya?”
                “Ayah terpikat pada wanita lain. Meski Ayah sah ber­po­ligami, tapi Ibu saya tidak ikhlas. Setiap hari Ayah dan Ibu bertengkar. Keadaan dalam rumah tidak ada bedanya de­ng­an neraka.”
                “Tapi seharusnya….”
                “Seharusnya saya memang tidak boleh terpengaruh. Ta­pi, anak mana yang tidak sedih melihat kedua orang­tuanya bertengkar sampai memutuskan un­­­tuk talak?!”
                “Lalu….”
                “Saya menyalahkan Ayah. Setiap hari saya uring-uring­an dan membang­kang perintahnya. Saya tidak lagi kon­sen­trasi mengikuti mata pelajaran di se­kolah. Nilai saya jeb­lok. Nama saya dicoret dalam daftar siswa teladan calon pe­ne­rima beasiswa. Saya sakit hati dan frustasi. Akhirnya saya mu­lai mengenal dan mengkomsumsi narkoba untuk melu­pa­kan masalah. Saya jadi junkies.”
                “Kamu kurang tabah.”
                “Saya menyesal. Tapi semuanya sudah terlambat. Ke­tika sadar, sekolah sudah men-strap saya.”
                “Masih untung kamu cepat sadar.”
                “Saya tidak mau mati muda. Teman-teman salah ga­ul saya banyak yang kolaps. Sayang….”
“Kamu masih bisa bangkit lagi. Kamu masih muda. Pa­ling usiamu terpaut dua-tiga tahun di atas saya.”
                 “Saya tidak tahu, apakah saya bisa bangkit atau ti­dak. Makanya, saya ka­bur dari rumah dan merantau ke Pu­lau Dewata ini.”
                “Lalu, orangtuamu bagaimana?”
                “Entahlah. Ibu dan Ayah sudah bercerai setahun lalu ketika saya baru sa­ja kabur dari rumah. Ibu tinggal bersama Ne­nek di kampung, sementara Ayah saya tinggal dengan is­tri mudanya.”
                “Kamu anak tunggal?”
                “He-eh.”
                “Ibumu….”
                “Saya masih rutin menyurati Ibu. Saya bilang, saya di sini mencari penga­laman hidup. Kalau kembali dan ting­gal di Jakarta, saya takut terpe­ngaruh lagi dengan dunia sa­ya yang dulu itu. Setelah bilang begitu, Ibu jadi tenang, dan ti­dak memaksa saya lagi untuk pulang ke Jakarta.
                “Kenapa larinya ke Bali?”
                “Saya sebenarnya tidak pernah merencanakan akan ka­bur kemana. Mula­nya saya bingung. Di luar daerah, saya sa­ma sekali tidak punya sanak famili. Tapi setelah menim­bang-nimbang beberapa hari, akhirnya saya pilih Bali karena di sini adalah daerah pariwisata. Paling tidak, saya punya mo­dal bisa berbahasa asing. Bisa ‘mengemis’ jatah makan pa­da bule dengan jasa sulih suara. Bukti­nya, sampai seka­rang saya masih dapat hidup berkat modal itu. Jadi guide le­bih baik ketimbang jadi junkies, kan?”
                “Kamu masih membenci Ayahmu?”
                “Sakit hati sih, iya. Percuma membencinya. Toh hal itu tidak bakal da­pat mengubah keadaan.”
                “Lalu, apa rencana masa depanmu?”
                “Tergantung nasib. Saya sekarang tidak terlalu ber­ha­rap banyak. Ada makan tiga kali sehari serta ada sedikit uang untuk bayar pondokan ya, sudah syukur. Bagi saya, ter­le­­pas dari dunia saya yang dulu itu merupakan keajaiban. Ja­di, saya tidak berpikir macam-macam lagi selain dapat hidup dengan wajar. Itu saja.”
                Ruki mengangguk-angguk. Dia paham benar pra­ha­ra masa lalu cowok itu. Ada empati yang perlahan menjalari dinding-dinding hatinya. Menggugahnya sam­pai ke batas iba. Dia bersimpati atas keteguhan dan kesederhanaannya da­lam menyikapi hidup yang keras ini.
                Sementara itu di atas panggung café, sang penyanyi ber­ce­lana jengki itu melompat-lompat membawakan la­gu­nya yang cadas. Rimba manusia meluber di bibir panggung. Ikut bergoyang dan melompat-lompat seperti kesurupan.

***
                 
                “Ikutlah ke Narita….”
                Sarwana membeliakkan mata. Sama sekali tidak per­caya dengan indera pendengarannya sendiri. Sementara ga­dis itu mengangguk, mempertegas kali­mat­nya tadi deng­an bahasa tubuh.
                “Kamu bercanda!” Sarwana tertawa tertahan. Ini le­lu­con paling lucu yang pernah di dengarnya!
                “Saya tidak main-main.”
                “Ke-kenapa mesti saya?!”
                Gadis itu membisu. Sejenak ditekuknya kepalanya ke dada sebelum mengedarkan mata ke sekeliling ruangan ca­fé. Suasana masih seramai tadi. Dihirupnya kembali jus apel­nya dengan gerak gelisah.
                “Padahal, ketemu juga baru beberapa jam lalu….”
                “Memangnya kenapa kalau saya suka sama kamu!”
                Sarwana terhenyak. Dadanya bergemuruh. Ditatap­nya sepasang mata eku­­a­tor gadis yang telah mengung­kap­kan perasaan hatinya itu. Ini mimpi! Seru­nya dalam hati.
                “Saya suka kamu, Wana!”
                “Kamu aneh….”
                “Tapi, saya benar-benar suka sama kamu.”
                “Saya bukan orang yang pantas kamu sukai. Kamu cu­ma emosi. Lama-lama rasa suka itu juga akan hilang sen­di­ri. Jadi….”
                “Kamu tidak fair!”
                “Kita temanan.”
                “Saya tidak mau membohongi perasaan saya!” Ruki me­nyanggah, beru­saha meyakinkan ketulusannya. “Sedari ke­cil saya sudah diajari untuk berlaku jujur pada diri sendiri. Sa­ya tidak ingin kecewa karena menutup-nutupi perasa­an sa­ya. Meski saya cewek, saya tidak ingin bersikap pasif ter­ha­dap orang yang saya senangi. Mungkin saya terlalu agre­sif. Tapi saya tidak peduli.”
Sarwana memejamkan matanya. Gadis itu mende­sak­nya. Negeri Matahari Terbit merupakan obsesinya sela­ma ini! Kini obsesi itu terpentang lebar di hadapannya….
                “Bukankah apa yang saya tawarkan merupakan ob­se­si kamu selama ini?”
                “Iya. Tapi bukan begitu caranya!”
                “Kamu meragukan kesungguhan niat saya?!”
                “Tentu saja tidak. Saya yakin kamu punya kemam­puan finansial untuk me­la­kukan niat kamu itu. Saya hargai se­mua itu. Cuma….”
                “Cuma kenapa?”
                “Cinta bukan masalah sepele, Ruki. Cinta itu tidak tumbuh sekejap se­per­ti jamur. Tolong bedakan rasa sayang itu dengan emosi….”
                “Ta-tapi….”
                Sarwana menggeleng. Mendadak dia teringat seo­rang gadis teman sepro­fesinya di sebuah travel di Sanur, Ka­dek Sundriani. Ada serangkaian kalimat bi­jak yang pernah di­sam­paikan gadis hitam manis itu kepadanya. Yang dija­di­kan­nya sebentuk bekal untuk senantiasa berpijak ke jalan yang lurus.
                “Profesi kita sangat rentan, Wana. Kalau tidak pan­dai-pandai jaga diri, maka kapan saja kita dapat terjerumus ke jalan yang salah. Cobalah memilah antara profesionalis­me dengan perasaan hati. Kedua-duanya beda. Sangat jauh berbeda!”
                Kalimat bijak itu berdenyar di benaknya. Sejujurnya dia memang menya­dari kerancuan yang kasatmata terjadi di dalam dunia mereka yang rapuh dan rentan. Dan dia tidak ingin terjerumus karenanya!
                “Sarwana!” Gadis Jepang itu menjerit memanggil na­manya, menggebah lamunannya seketika.
                “Maafkan saya, Ruki. Saya tidak dapat menyertaimu ke Narita.”
                “Ke-kenapa…?!”
                “Masih banyak tugas yang belum saya rampungkan di sini. Persoalan ke­luarga saya di Jakarta; Ibu serta Ayah yang belum akur. Semuanya itu masih belum beres. Saya ti­dak bisa lari meninggalkan tanggung jawab meski kesem­pat­an untuk itu datang lewat tawaranmu tadi,” tolaknya te­gas. “Memang, Je­pang merupakan obsesi saya dulu. Tapi, ob­sesi hanyalah tinggal obsesi. Itu se­per­ti mimpi. Sekarang sa­ya sadar, lebih baik menyongsong masa depan ketim­bang te­rus-menerus terbelenggu di dalam obsesi-obsesi saya yang du­lu itu, Ru­ki.”
                “Ka-kamu….”
                “Sudahlah, Ruki. Saya bahagia dapat mengenal ka­mu. Kamu gadis yang ba­ik. Tapi ada kalanya memang kita ha­­rus melangkah pada jalan kita masing-masing. Kalau kita me­mang sejodoh, suatu saat kita pasti dipertemukan kem­ba­­li.”
Gadis itu menggigit bibirnya. Mematung dalam di­am.
“Saya harap kamu dapat mengerti.” Sarwana ber­an­jak dari bangkunya, me­­lirik jam di pergelangan tangan kiri­nya. “Sudah larut malam. Besok saya mes­ti kerja. Saya antar ka­mu pulang, ya?”
Gadis itu menggeleng. “Besok saya kembali ke Na­ri­ta!”
Sarwana menghela napas panjang. Diliriknya gadis itu diam-diam. Sepa­sang mata sipitnya membasah. Dicoba­nya untuk bersikap tegar. Menghalau gun­dah atas keputus­an tegasnya tadi. Dilangkahkannya kakinya yang memberat ke arah pintu keluar café.
Sayonara, Ruki!” ucapnya parau.
Gadis itu masih terisak di seberang meja ketika dia me­ninggalkan ruang­an café.
Semuanya seperti mimpi! ©



Keterangan:

1 Maaf.
2  Sampai jumpa.
3 Terima kasih banyak.
4 Arak Jepang dibuat dari beras beragi, biasanya disajikan panas pa­nas.
5  Baju panjang (khas Jepang).
6 Sejenis tikar halus Jepang, biasanya dipakai untuk meng­alas lan­tai bilik.
7 Kata yang dibubuhkan pada nama orang ketika me­mang­gilnya un­tuk menyatakan rasa sayang, biasanya dipakai untuk anak-anak atau rema­ja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar