SAYONARA, RUKI (2)
“Kenapa?”
“Kegagalan itu yang
menghancurkan semua semangat saya,” jawab Sarwana separuh mendesis.
Seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Gagal?” Ruki mengernyitkan
dahinya. Dicondongkannya kepalanya lebih dekat, nyaris menyentuh dahi cowok
yang tengah menundukkan kepalanya itu. “Gagal apa?”
“Sumimase, Ruki-chan7,”
sahutnya lemah, mengalihkan pertanyaan dari Ruki. “Tidak seharusnya pertemuan
dan perkenalan kita ini diawali dengan kisah sedih begini….”
“Manusia pasti punya masalah.
Kamu tidak usah ragu bakal merecoki perkenalan kita dengan tangis. Never mind. Saya rela jadi waskom
curhatmu, kok,” kata gadis yang bergaya funky
itu. Matanya mendelik lucu.
“Hei, apa saya kelihatan cengeng
begitu….”
“Habis, muka kamu memelas
begitu.” Ruki mencibir. “Ada
apa sih sebenarnya?”
Sarwana membisu. Dadanya serasa
sesak. Dihelanya udara dalam-dalam. Dibutuhkannya waktu lima detik untuk menimbang-nimbang, sebelum
akhirnya menjawabi desakan pertanyaan gadis dari Negeri Sakura itu.
“Saya gagal mendapat beasiswa ke
Jepang dari sekolah!”
“Mungkin kamu belum beruntung.”
“Bukan. Semua karena Ayah
saya….”
“Apa hubungannya?”
“Ayah terpikat pada wanita lain.
Meski Ayah sah berpoligami, tapi Ibu saya tidak ikhlas. Setiap hari Ayah dan
Ibu bertengkar. Keadaan dalam rumah tidak ada bedanya dengan neraka.”
“Tapi seharusnya….”
“Seharusnya saya memang tidak
boleh terpengaruh. Tapi, anak mana yang tidak sedih melihat kedua orangtuanya
bertengkar sampai memutuskan untuk talak?!”
“Lalu….”
“Saya menyalahkan Ayah. Setiap
hari saya uring-uringan dan membangkang perintahnya. Saya tidak lagi konsentrasi
mengikuti mata pelajaran di sekolah. Nilai saya jeblok. Nama saya dicoret dalam
daftar siswa teladan calon penerima beasiswa. Saya sakit hati dan frustasi.
Akhirnya saya mulai mengenal dan mengkomsumsi narkoba untuk melupakan
masalah. Saya jadi junkies.”
“Kamu kurang tabah.”
“Saya menyesal. Tapi semuanya
sudah terlambat. Ketika sadar, sekolah sudah men-strap saya.”
“Masih untung kamu cepat sadar.”
“Saya tidak mau mati muda.
Teman-teman salah gaul saya banyak yang kolaps. Sayang….”
“Kamu masih bisa bangkit lagi. Kamu masih muda. Paling
usiamu terpaut dua-tiga tahun di atas saya.”
“Saya tidak tahu, apakah saya bisa bangkit
atau tidak. Makanya, saya kabur dari rumah dan merantau ke Pulau Dewata
ini.”
“Lalu, orangtuamu bagaimana?”
“Entahlah. Ibu dan Ayah sudah
bercerai setahun lalu ketika saya baru saja kabur dari rumah. Ibu tinggal
bersama Nenek di kampung, sementara Ayah saya tinggal dengan istri mudanya.”
“Kamu anak tunggal?”
“He-eh.”
“Ibumu….”
“Saya masih rutin menyurati Ibu.
Saya bilang, saya di sini mencari pengalaman hidup. Kalau kembali dan tinggal
di Jakarta,
saya takut terpengaruh lagi dengan dunia saya yang dulu itu. Setelah bilang
begitu, Ibu jadi tenang, dan tidak memaksa saya lagi untuk pulang ke Jakarta.
“Kenapa larinya ke Bali?”
“Saya sebenarnya tidak pernah
merencanakan akan kabur kemana. Mulanya saya bingung. Di luar daerah, saya sama
sekali tidak punya sanak famili. Tapi setelah menimbang-nimbang beberapa hari,
akhirnya saya pilih Bali karena di sini adalah
daerah pariwisata. Paling tidak, saya punya modal bisa berbahasa asing. Bisa
‘mengemis’ jatah makan pada bule dengan jasa sulih suara. Buktinya, sampai
sekarang saya masih dapat hidup berkat modal itu. Jadi guide lebih baik ketimbang jadi junkies, kan?”
“Kamu masih membenci Ayahmu?”
“Sakit hati sih, iya. Percuma
membencinya. Toh hal itu tidak bakal dapat mengubah keadaan.”
“Lalu, apa rencana masa
depanmu?”
“Tergantung nasib. Saya sekarang
tidak terlalu berharap banyak. Ada
makan tiga kali sehari serta ada sedikit uang untuk bayar pondokan ya, sudah
syukur. Bagi saya, terlepas dari dunia saya yang dulu itu merupakan
keajaiban. Jadi, saya tidak berpikir macam-macam lagi selain dapat hidup
dengan wajar. Itu saja.”
Ruki mengangguk-angguk. Dia
paham benar prahara masa lalu cowok itu. Ada empati yang perlahan menjalari
dinding-dinding hatinya. Menggugahnya sampai ke batas iba. Dia bersimpati atas
keteguhan dan kesederhanaannya dalam menyikapi hidup yang keras ini.
Sementara itu di atas panggung
café, sang penyanyi bercelana jengki itu melompat-lompat membawakan lagunya
yang cadas. Rimba manusia meluber di bibir panggung. Ikut bergoyang dan
melompat-lompat seperti kesurupan.
***
“Ikutlah ke Narita….”
Sarwana membeliakkan mata. Sama
sekali tidak percaya dengan indera pendengarannya sendiri. Sementara gadis itu
mengangguk, mempertegas kalimatnya tadi dengan bahasa tubuh.
“Kamu bercanda!” Sarwana tertawa
tertahan. Ini lelucon paling lucu yang pernah di dengarnya!
“Saya tidak main-main.”
“Ke-kenapa mesti saya?!”
Gadis itu membisu. Sejenak ditekuknya kepalanya ke
dada sebelum mengedarkan mata ke sekeliling ruangan café. Suasana masih
seramai tadi. Dihirupnya kembali jus apelnya dengan gerak gelisah.
“Padahal, ketemu juga baru beberapa jam lalu….”
“Memangnya kenapa kalau saya suka sama kamu!”
Sarwana terhenyak. Dadanya bergemuruh. Ditatapnya
sepasang mata ekuator gadis yang telah mengungkapkan perasaan hatinya itu.
Ini mimpi! Serunya dalam hati.
“Saya suka kamu, Wana!”
“Kamu aneh….”
“Tapi, saya benar-benar suka sama kamu.”
“Saya bukan orang yang pantas kamu sukai. Kamu cuma
emosi. Lama-lama rasa suka itu juga akan hilang sendiri. Jadi….”
“Kamu tidak fair!”
“Kita temanan.”
“Saya tidak mau membohongi perasaan saya!” Ruki menyanggah,
berusaha meyakinkan ketulusannya. “Sedari kecil saya sudah diajari untuk
berlaku jujur pada diri sendiri. Saya tidak ingin kecewa karena menutup-nutupi
perasaan saya. Meski saya cewek, saya tidak ingin bersikap pasif terhadap
orang yang saya senangi. Mungkin saya terlalu agresif. Tapi saya tidak peduli.”
Sarwana
memejamkan matanya. Gadis itu mendesaknya. Negeri Matahari Terbit merupakan
obsesinya selama ini! Kini obsesi itu terpentang lebar di hadapannya….
“Bukankah apa yang saya tawarkan merupakan obsesi
kamu selama ini?”
“Iya. Tapi bukan begitu caranya!”
“Kamu meragukan kesungguhan niat saya?!”
“Tentu saja tidak. Saya yakin kamu punya kemampuan
finansial untuk melakukan niat kamu itu. Saya hargai semua itu. Cuma….”
“Cuma kenapa?”
“Cinta bukan masalah sepele, Ruki. Cinta itu tidak
tumbuh sekejap seperti jamur. Tolong bedakan rasa sayang itu dengan emosi….”
“Ta-tapi….”
Sarwana menggeleng. Mendadak dia teringat seorang
gadis teman seprofesinya di sebuah travel di Sanur, Kadek Sundriani. Ada serangkaian kalimat
bijak yang pernah disampaikan gadis hitam manis itu kepadanya. Yang dijadikannya
sebentuk bekal untuk senantiasa berpijak ke jalan yang lurus.
“Profesi kita sangat rentan, Wana. Kalau tidak pandai-pandai
jaga diri, maka kapan saja kita dapat terjerumus ke jalan yang salah. Cobalah
memilah antara profesionalisme dengan perasaan hati. Kedua-duanya beda. Sangat
jauh berbeda!”
Kalimat bijak itu berdenyar di benaknya. Sejujurnya
dia memang menyadari kerancuan yang kasatmata terjadi di dalam dunia mereka
yang rapuh dan rentan. Dan dia tidak ingin terjerumus karenanya!
“Sarwana!” Gadis Jepang itu menjerit memanggil namanya,
menggebah lamunannya seketika.
“Maafkan saya, Ruki. Saya tidak dapat menyertaimu ke
Narita.”
“Ke-kenapa…?!”
“Masih banyak tugas yang belum saya rampungkan di
sini. Persoalan keluarga saya di Jakarta;
Ibu serta Ayah yang belum akur. Semuanya itu masih belum beres. Saya tidak
bisa lari meninggalkan tanggung jawab meski kesempatan untuk itu datang lewat
tawaranmu tadi,” tolaknya tegas. “Memang, Jepang merupakan obsesi saya dulu.
Tapi, obsesi hanyalah tinggal obsesi. Itu seperti mimpi. Sekarang saya
sadar, lebih baik menyongsong masa depan ketimbang terus-menerus terbelenggu
di dalam obsesi-obsesi saya yang dulu itu, Ruki.”
“Ka-kamu….”
“Sudahlah, Ruki. Saya bahagia dapat mengenal kamu.
Kamu gadis yang baik. Tapi ada kalanya memang kita harus melangkah pada
jalan kita masing-masing. Kalau kita memang sejodoh, suatu saat kita pasti
dipertemukan kembali.”
Gadis
itu menggigit bibirnya. Mematung dalam diam.
“Saya
harap kamu dapat mengerti.” Sarwana beranjak dari bangkunya, melirik jam di
pergelangan tangan kirinya. “Sudah larut malam. Besok saya mesti kerja. Saya
antar kamu pulang, ya?”
Gadis
itu menggeleng. “Besok saya kembali ke Narita!”
Sarwana
menghela napas panjang. Diliriknya gadis itu diam-diam. Sepasang mata sipitnya
membasah. Dicobanya untuk bersikap tegar. Menghalau gundah atas keputusan
tegasnya tadi. Dilangkahkannya kakinya yang memberat ke arah pintu keluar café.
“Sayonara, Ruki!” ucapnya parau.
Gadis
itu masih terisak di seberang meja ketika dia meninggalkan ruangan café.
Semuanya
seperti mimpi! ©
Keterangan:
1 Maaf.
2 Sampai
jumpa.
3 Terima
kasih banyak.
4
Arak Jepang dibuat dari beras beragi, biasanya disajikan
panas panas.
5 Baju panjang (khas Jepang).
6
Sejenis tikar halus Jepang, biasanya dipakai untuk
mengalas lantai bilik.
7
Kata yang dibubuhkan pada nama orang ketika memanggilnya
untuk menyatakan rasa sayang, biasanya dipakai untuk anak-anak atau remaja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar